Tata Kalimat, Frasa dan Klausa dalam Ilmu Bahasa
Tata Kalimat
Tata dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah kaidah, aturan, dan susunan; cara menyusun; sistem (biasanya digunakan dalam kata majemuk). Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Tata kalimat adalah kaidah penyusunan kata sehingga menjadi kalimat yang baik dan benar dan mempunyai arti sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.
Ilmu yang mempelajari kalimat disebut dengan sintaksis. Sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa. Yang menjadi objek penelitian sintaksis adalah frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
Frasa (kelompok kata)
Frasa atau kelompok kata adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk sau kesatuan, tetapi tidak membentuk Subjek - Predikat dan tidak membentuk makna baru. Bentuk baru itu tidak menimbulkan makna yang berbeda dengan makna kata sebelumnya. Misalnya dalam frasa :
- pulpen saya artinya tetap, yaitu pulpen milik saya.
Berbeda dengan mata majemuk yang dapat menimbulkan makna bari, misalnya :
- rumah sakit bukan bermakna rumah yang sakit.
Macam - macam Frasa
- Frasa Nominal , yaitu frasa yang berintikan kata benda, misalnya mobil baru (inti atau yang diterangkan adalah mobil)
- Frasa Verba , yaitu frasa yang berintikan kata kerja, misalnya sudah pulang (inti atau yang diterangkan adalah kata kerja pulang)
- Frasa Adjectiva , yaitu frasa yang berintikan kata sifat, misalnya sangat lembut (inti atau yang diterangkan adalah kata sifat lembut)
- Frasa Adverbia , yaitu frasa yang tidak mempunyai inti, frasa ini hanyalah gabungan dua kata keterangan atau lebih, misalnya sudah akan, hampir tidak.
- Frasa Preposional , yaitu frasa yang didahului kata depan dan frasa ini juga tidak mempunyai inti.
Menurut tipe strukturnya frasa itu dapat dibagi menjadi :
A. Frasa Endosentris , yaitu frasa yang salah satu atau kedua unsurnya menjadi inti dari frasa tersebut. Frasa Endosentris dibagi menjadi tiga yaitu :
- Frasa Endosentris yang Subordinatif , yaitu apabila salah satu unsurnya sebagai inti dan unsur lainnya sebagai keterangan, misalnya :
- diskon baju = harga (D), baju (M).
- jumlah pasukan = jumlah (M), pasukan (D).
- D = diterangkan = inti , dan M = menerangkan = penjelas.
- Mayoritas frasa dalam bahasa indonesia berpola (D - M), frasa yang berpola (M - D) sangat sedikit.
- Frasa Endosentris yang Koordinatif , yaitu apabila semua unsur frasa itu dapat berlaku sebagai inti, misalnya: kakak adik, ayah ibu, atas bawah. Frasa setara dapat disisipi konjungsi dan, atau, maupun tanpa mengubah makna.
- Frasa Endosentris yang Apositif , yaitu apabila salah satu unsurnya sebagai keterangan, tetapi keterangan itu dapat mengganti kedudukan yang diterangkannya. Misalnya :
- Ibu Ida, tetangga baru di komplek mekar, menyapa saudarinya.
- Frasa tetangga baru di komplek mekar dalam kalimat diatas berfungsi menjelaskan Ibu Ida.
B. Frasa Eksosentris , yaitu frasa yang unsurnya tidak menjadi inti frasa tersebut. Frasa Eksosentris dibagi dua, yaitu :
- Frasa Eksosentris yang Efektif , yaitu frasa yang menunjukkan arah, misalnya di taman, kepada pejuang, dari kantor.
- Frasa Eksosentris yang Obyektif , yaitu frasa yang salah satu unsurnya sebagai objek, misalnya mengusir burung.
Pola Pembentuk Frasa
Pola bentukan frasa dapat terdiri dari gabungan dua kata. Pola pembentukan frasa adalah sebagai berikut :
- Kata benda + kata benda, misalnya dingding kayu, perahu layar.
- Kata benda + kata kerja, misalnya pesawat terbang, kereta dorong.
- Kata benda + kata sifat, misalnya sepatu kotor, handuk lembut
- Kata kerja + kata benda, misalnya tidur memukul tembok, menghisap rokok
- Kata keterangan + kata sifat, misalnya amat pemberani, sungguh perkasa
Klausa
Klausa adalah suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional yang menurut tata bahasa tradisional dikenal sebagai Subjek dan Predikat. Klausa merupakan bagian kalimat yang memiliki arti. Klausa ini merupakan bagian dari kalimat yang luas atau kalimat majemuk.
Ciri klausa adalah dalam sebuah klausa hanya terdapat satu predikat saja dan tidak lebih. Klausa dapat berubah menjadi sebuah kalimat jika diimbuhi dengan intonasi akhir. Klausa dapat bersifat meluas jika ditambahkan dengan atribut-atribut khusus yang belum terdapat pada klausa tersebut.
Klausa terdiri atas dua macam, yaitu :
- Klausa utama / induk kalimat , yaitu klausa yang dapat berdiri sebagai kalimat. Cirinya bahwa klausa utama tidak boleh didahului konjungsi, misalnya Bapak menyapu halaman. Adik menonton tivi. Bapak menyapu halaman merupakan klausa utama, dan juga Adik menonton tivi merupakan klausa utama.
- Klausa bawahan /anaka kalimat , yaitu klausa yang tidak dapat berdiri sebagai kalimat. Cirinya didahului oleh konjungsi, misalnya Saya pulang ketika hujan deras. Klausa ketika hujan deras dalam kalimat tersebut tidak dapat berdiri sendiri.
Demikian ulasan singkat mengenai Tata Kalimat bagian Frasa, Macam-macam Frasa, Tipe struktur Frasa, Pola pembentuk Frasa, dan Klausa.
Post a Comment for "Tata Kalimat, Frasa dan Klausa dalam Ilmu Bahasa"